Rabu, 14 Juli 2010

Judul Buku: KELINCI: (Pemeliharaan secara ilmiah, tepat, dan terpadu)./Penulis: Faiz Manshur/Editor: Mathori Al-Elwa/ Penerbit; Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Januari 2009/ Tebal: 284 Halaman 19 x 24 cm. Harga Rp 61.000

Bagaimana menciptakan bisnis baru yang menjanjikan masa depan kehidupan kita?
Ini adalah pertanyaan yang banyak muncul di benak orang. Krisis ekonomi yang terus mendera negeri ini benar-benar mencekik kehidupan. Sektor jasa sangat labil. Pabrik banyak yang tutup. Bagi mereka yang masih bekerja sebagai karyawan kecemasan melanda. Cepat atau lambat bisa jadi nasib mereka diputuskan sepihak oleh
perusahaan. Pemecatan benar-benar menakutkan. Sementara mereka yang menganggur atau bekerja dengan penghasilan minim dirundung ketidakberdayaan modal untuk membuka usaha baru.
Letak kesulitannya karena masing-masing orang berpikir usaha yang menarik perhatian hanya terletak pada sektor jasa atau dagang di kota. Sementara sektor riil seperti pertanian, perikanan dan peternakan seringkali tidak pernah dibayangkan. Menjadi petani atau peternak bagi orang Indonesia bukanlah idaman. Seolah-olah usaha di sektor riil seperti itu tiada hasil yang menjanjikan. Padahal?
Buku ini telah membuktikan asumsi baru yang jauh berseberangan dari asumsi kebanyakan orang. Ternak kelinci yang selama ini dianggap marjinal ternyata memiliki potensi luar biasa untuk menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta dalam setiap bulan. Dan itu bisa dilakukan di kota sekalipun.
Buku ini bukan sekedar panduan teknis pemeliharaan, melainkan memandu kita semua menyadari bahwa kelinci, terutama kelinci impor memiliki nilai besar bagi kehidupan yang tiada terkira.
Kelinci adalah makhluk kecil dengan potensi besar, besar mengalahkan potensi hewan-hewan piaraan lain. Siapapun bisa memelihara, bahkan jika hendak dipelihara di kota sekalipun. Memang, beternak kelinci adalah sesuatu yang baru dan asing. Tetapi di sinilah ujian kita sejauh mana mampu menjadi manusia bijak untuk membangun kehidupan ekonomi baru. Kalau akar masalahnya adalah sektor riil, maka ternak kelinci adalah akar yang bisa ditanam sebagai tumbuhan uang. Kalau masalahnya adalah kesulitan membayangkan praktek ternak kelinci, maka solusinya jelas mempelajari, baik belajar dari peternak langsung maupun dari buku-buku bacaan.
Era globalisasi yang merevolusionerkan setiap sendi-sendiri kehidupan semestinya disikapi dengan cara revolusioner. Dan langkah pertamanya ialah melirik potensi ternak dan bisnis secepat revolusi bergulir. Kelinci adalah potensi yang akan mampu mengubah kehidupan para peternak maupun pelaku bisnis, termasuk mereka yang berusaha di sektor agroindustri.
Ini bisa dibuktikan. Pertama, daging kelinci adalah golongan daging paling baik dan sehat di banding daging hewan lain dan memiliki potensi luar biasa. Hanya saja karena pasokan minim dan masyarakat belum mudah mendapatkan, maka potensi itu hingga kini belum tergali. Kedua, potensi pupuk dari air kencing (urine) dan feses kelinci sangat mahal harganya. Ketiga, penghasil bulu. Bulu kelinci sangat mahal harganya. Pasar luar negeri menghargai satu lembar kulit kelinci antara Rp 140-280 ribu.
Sayangnya, ketiga hal di atas tersebut sampai sekarang belum bergerak. Pasar domestik itu sendiri sangat membutuhkan banyak pasokan daging kelinci. Harga sate kelinci yang mahal dan digemari banyak orang selama ini tidak banyak menyebar bukan karena kelinci tidak laku, melainkan karena kurangnya pasokan daging. Beberapa peternak kelinci yang sering muncul di berbagai media massa masih bertahan pada peternakan kelinci impor golongan hias. Hal ini maklum adanya mengingat harga kelinci hias empat kali lipat lebih tinggi di banding harga kelinci pedaging.
Buku ini tergolong menarik dipelajari oleh mereka, para calon usahawan baru yang tidak gengsi melirik sektor peternakan sebagai calon basis usaha yang menjanjikan uang besar. Di dalamnya membuat seluk beluk kehidupan kelinci. Pola pakan, perawatan, tata tekola dan manajeman pemberdayaan diulas secara rasional dan penuh inspirasi.
Jika tiada rasa gengsi berwirausaha di sektor ini, mereka yang mampu merogoh kocek Rp 1-2 juta akan mampu menghasilkan uang tambahan antara Rp 700.000- 1juta. Bagi mereka yang berani mengeluarkan modal Rp 3-4 juta, akan mampu mendapatkan laba antara Rp 1,2-2 juta. Sedangkan mereka yang mampu menginvestasikan modalnya Rp 25-30 juta bisa meneguk untung 5-6 juta perbulan. Kalau mau lebih serius dengan mengeluarkan modal Rp 150 juta, barangkali penghasilan setiap bulannya akan mencapai Rp 17-25 juta lebih.
Berbagai pengalaman kesuksesan peternak kelinci baik pedaging maupun kelinci hias sudah banyak dialami banyak orang. Sayangnya masyarakat kita kurang peka terhadap perkembangan sektor ternak kelinci ini. Potensi ternak kelinci yang lebih cepat ketimbang ternak sapi atau domba masih dipandang pinggiran. Semua karena asumsi-asumsi lama tentang kelinci lokal peliharaan petani yang dianggap tak memiliki prospek itu.
Bagi Anda yang ingin memajukan ekonomi keluarga, mengembangkan investasi bisnis di sektor agroindustri atau sektor agrobisnis sepatutnya belajar dari buku ini. Sebuah panduan yang tepat dan cocok untuk kalangan manapun, termasuk Anda yang tinggal di kota-kota besar.( Farid Ibrahim)

sumber:
http://bukukelinci.blogspot.com/2010/05/buku-pengetahuan-dasar-kelinci.html
http://oase.kompas.com/read/2009/05/09/0037179/Potensi.Kelinci.untuk.Rakyat

0 respon:

Posting Komentar

give me an idea...

pakarmulyo™ pastinya